Sabtu, 08 Juli 2017

CURRICULUM VITAE

CURRICULUM VITAE
I.                  Data Pribadi
Nama                                : Ananda Hasha Salsabila
Tempat, Tanggal Lahir     : Jakarta, 30 November 1998
Kebangsaan                       : Indonesia
Agama                               : Islam
Jenis Kelamin                    : Perempuan
Status                                : Belum Menikah
Alamat                              : Paradise Serpong City Cluster Rasamala Jl.Rasamala 1 Blok i3 no.72 Setu-Tangerang Selatan
Email                                 : hashahasha30@gmail.com
Telepon                             : 082269010675

II.               Riwayat Pendidikan

Pendidikan Formal
Sekolah Dasar Islam Al-Amanah                                            2004-2010
Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Pamulang                                 2010-2013
Sekolah Menengah Kejuruan LINK and MATCH                           2013-2016
Universitas Gunadarma

Pendidikan Non Formal
Kursus Bahasa Inggris di English Training (ET) Muncul-Tangsel

III.            Pengalaman Bekerja
01 Oktober 2015-28 November 2015       : Telah melaksanakan Prakerin di    LPP TVRI PUSAT JAKARTA.

IV.            Kemampuan Bahasa Asing
Cukup
.


Pertumbuhan eskpor Indonesia terhadap Inggris




Jakarta – Indonesia kerap kali mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan terhadap produk-produk Indonesia yang di ekspor ke Inggris. Salah satunya ada kopi luwak dari Indonesia yang dilarang dijual di pertokoan bergengsi di London bernama Harrods. Para aktivis kesejahteraan hewan menilai bahwa kopi luwak diproduksi dengan cara kurang baik sehingga kopi luwak dilarang diperjualbelikan di Harrods.

Maka dari itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi melakukan diplomasi dagang. Pihaknya memfasilitasi untuk berkunjung ke Indonesia untuk melihat secara langsung proses produksi kopi luwak. Hasilnya adalah, Harrods memilih berkunjung ke Tekongan, Aceh. “Kini pertokoan di Harrods telah menjual kopi luwak Indonesia. Penjualan kopi luwak Indonesia di Harrods memang belum terlalu banyak, hanya beberapa kuintal per bulan, namun hal ini telah memberi posisi yang positif bagi produk Indonesia,” ucap Bayu dalam keterangan resmi yang diterima, kemarin.

Tidak hanya kopi luwak, diplomasi dagang di London tersebut juga telah memberikan hasil yang positif terutama mengenai Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Pasalnya semenjak diterapkan SVLK membuat ekspor kayu dari Indonesia semakin meningkat. “Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) sudah mulai menunjukkan dampak positif terhadap ekspor produk kayu Indonesia. Salah satunya adalah peningkatan ekspor pintu kayu dari Semarang dan Kudus,” jelas Wamendag.

Bayu juga menyampaikan bahwa sampai akhir tahun 2013, ekspor pintu kayu mencapai 10.000-13.000 pintu per minggu. Setelah SVLK, ekspor pintu kayu hingga Mei 2014 meningkat menjadi 13.000-15.000 per minggu. Ekspor pintu kayu ini diproyeksikan mencapai 20.000 pintu per minggu di awal 2015. “Menurut importir kayu yang kami temui di sana, satu dari tiga pintu yang dijual di London itu buatan Indonesia,” imbuhnya.

Produk-produk furnitur Indonesia yang dimanufaktur di Jepara dan Semarang dijual di toko-toko furnitur terkemuka Inggris. “Importir produk-produk furnitur tersebut mengatakan bahwa telah terjadi pertumbuhan permintaan sebesar 15%-20% terhadap produk furnitur Indonesia dan diproyeksikan akan naik 50% dalam 1-2 tahun ke depan, antara lain dikarenakan reputasi Indonesia yang membaik dengan adanya SVLK,” ungkap Wamendag.

Dilanjutkan Bayu, diplomasi dagang ini juga berhasil memperoleh buyer untuk produk-produk kelapa Indonesia, khususnya air kelapa, santan, dan produk kelapa lain. Rencana pembelian oleh importir Inggris tersebut tidak hanya untuk memenuhi pasar di Inggris, tetapi juga untuk pasar Eropa secara keseluruhan. Diplomasi dagang lainnya akan dilakukan pada 4 Juni 2014 pada sidang tahunan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang diselenggarakan di London.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor nonmigas Indonesia ke Inggris pada Maret 2014 naik menjadi US$131,4 juta. Dibandingkan bulan sebelumnya yang US$129,5 juta, naik tipis sebesar US$1,9 juta atau 1,46%. Data terkini BPS juga menunjukkan pada periode Januari-Maret ekspor nonmigas Maret mencapai US$398,7 juta. Angka ini lebih baik ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar US$383,1 juta. Dengan demikian ada kenaikan US$15,6 juta atau 4,07%.

Di sisi lain, BPS mencatat impor nonmigas dari Inggris justru turun. Pada Maret hanya impor nonmigas dari Inggris hanya US$72,3 juta. Padahal pada April tercatat US$76,2. Dengan demikian telah terjadi penurunan US$3.90 atau 5,11%. Impor nonmigas periode Januari-Maret secara total mencapai angka US$225,3. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$253,2 juta, impor nonmigas dari Inggris turun US$27,9 juta atau 11,01%.

Dalam kunjungan ke Indonesia, Putra Ratu Elizabeth Pengeran Andrew menginginkan bahwa antara Indonesia dengan Inggris berkomitmen untuk meningkatkan perdagangan barang dan jasa kedua negara pada tahun 2015 ke angka US$7 miliar atau setara dengan Rp80,4 triliun. “Hubungan ini merupakan kontribusi besar bagi hubungan Inggris dan Indonesia di berbagai bidang terutama sektor perdagangan di mana kedua negara telah menyepakati target untuk menggandakan nilai perdagangan hingga 4,4 miliar Pound Sterling di 2015,” ujar Duta Besar Inggris untuk RI, Mark Canning.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya menyatakan bahwa pentingnya untuk meningkatkan potensi pada sektor infrastruktur di Indonesia di antaranya pada sistem saluran air dan pembuangan, pelabuhan, rel, bandar udara, energi dan komunikasi. Minat sektor swasta di Inggris kepada Indonesia dengan melihat tingkat kekuatan ekonomi di Asia yang sedang berkembang, dengan tingkat konsumsi yang meningkat dan termasuk populasi generasi muda yang besar. “Investasi Inggris di Indonesia pada sektor barang konsumer, paramedik, kesehatan dan jasa keuangan,” jelas dia.
Nilai perdagangan bilateral: mitra dagang RI lima terbesar
2015: US$ 2,34 miliar, surplus RI US$ 708 juta;
2014: US$ 2,55 miliar, surplus RI US$ 764 juta;
2013: US$ 2,72 miliar, surplus RI US$ 553 juta

Ekspor Utama RI ke Inggris:
Tekstil, alas kaki, minyak sawit, produk kehutanan, elektronik, karet, makanan olahan, udang, barang kerajinan, ikan, kokoa, minyak atsiri, dan ramuan obat, dan kopi.

SUMBER :

Kelompok :     2
Anggota :        Ananda Hasha Salsabila (20216733)
                        Novi Octaviyanti (25216489)
                        Wisam Kusumahadi Putra (27216685)

Hubungan Bilateral Indonesia-Brazil



Hubungan Indonesia dengan Brazil
  • Hubungan Politik
Indonesia dan Brazil menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1953. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brazil secara umum berlangsung baik. Kesamaan kebijakan luar negeri kedua negara yang mengutamakan mekanisme multilateral dalam penanganan berbagai masalah internasional telah memperkuat hubungan dan koordinasi serta saling mendukung antara kedua negara dalam forum kerjasama bilateral, regional dan multilateral.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brazil secara umum berlangsung baik dan saat ini memasuki tahapan yang krusial dan strategis. Disamping kesamaan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak, kedua negara memiliki kesamaan pandangan dalam berbagai isu regional dan multilateral, usaha penegakan demokrasi dan HAM. Selain itu, pemerintah kedua negara juga sedang melakukan reformasi di berbagai bidang dan oleh karena itu kedua negara saling memahami tantangan yang dihadapi masing-masing dalam proses reformasi tersebut.

Brazil menilai Indonesia sebagai negara yang memiliki peranan penting bagi stabilitas di kawasan Asia Tenggara dan kawasan Asia Pasifik. Sejalan dengan politik luar negeri yang tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, Pemerintah Brazil mendukung integritas wilayah NKRI dan langkah-langkah reformasi yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam pemajuan HAM dan demokrasi.
Terdapat keinginan kuat dari kedua negara untuk terus berupaya meningkatkan hubungan kerjasamanya di berbagai bidang. Hal ini dapat dilihat dari antara lain kegiatan saling kunjung antara kepala negara, pejabat, anggota parlemen, pelaku ekonomi dan masyarakat kedua negara. Kunjungan kenegaraan Presiden Brazil, Liuz Inácio Lula da Silva ke Indonesia pada tanggal 12 Juli 2008 yang merupakan kunjungan pertamanya sejak menjabat sebagai Kepala Negara Brazil dan merupakan kunjungan Kepala Negara Brazil yang kedua setelah kunjungan Presiden Fernando Henrique Cardoso pada bulan Januari 2001 mempunyai arti penting bagi peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Sementara itu Presiden RI melakukan kunjungan balasan ke Brazil pada tanggal 18 November 2008 dalam rangkaian menghadiri pertemuan puncak negara anggota APEC di Lima, Peru.

Kegiatan saling kunjung antara Kepala Negara ini memiliki arti penting tersendiri bagi peningkatan hubungan bilateral Indonesia – Brazil, mengingat pada tahun 2008 hubungan diplomatik Indonesia - Brazil memasuki usia 55 tahun. Kunjungan tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan dan memperkuat kerjasama Indonesia – Brazil baik dalam forum multilateral maupun bilateral yang pada akhirnya mendorong serta meningkatkan kerjasama kedua negara yang saling menguntungkan di berbagai bidang khususnya ekonomi, perdagangan, investasi, pariwisata, ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk promosi citra Indonesia di Brazil.
   
Sebagai tindak lanjut penandatanganan Kemitraan Strategis Indonesia - Brazil pada saat kunjungan resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Brazil pada 18 November 2009, pada tanggal 14 – 16 Oktober 2009 telah dilangsungkan Sidang Ke 1 Komisi Bersama Indonesia – Brazil yang dikhususkan untuk membahas Rencana Aksi dari Kemitraan Strategis yang telah disepakati sebelumnya.

Selain menyepakati Rencana Aksi Kemitraan Strategis, dalam kesempatan pertemuan tersebut delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Deplu Duta Besar Retno L.P. Marsudi dan Brasil dipimpin oleh Duta Besar Roberto Jaguaribe, telah membahas prioritas hubungan bilateral kedua negara utamanya dalam upaya memajukan investasi, pedagangan, pertanian dan energi.
 
  • Hubungan Ekonomi Dan Perdagangan
Di bidang ekonomi, hubungan kedua negara berjalan cukup baik. Neraca perdagangan kedua negara masih relatif kecil bila dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh kedua negara, namun pada tahun-tahun terakhir ini tercatat peningkatan yang signifikan dalam hubungan perdagangan Brazil merupakan mitra dagang utama Indonesia di kawasan Amerika Selatan.

Ekspor utama Indonesia ke Brazil antara lain : karet alam dan produk karet, benang tekstil polyester, kakau, minyak kelapa sawit, tembaga dan spare-parts mobil. Sedangkan impor utama dari Brazil antara lain biji besi, kedelai, pulp, kapas, gula tebu, tembakau, suku cadang kendaraan bermotor, lem kayu dan kulit.

Untuk mempromosikan hubungan dagang, ekonomi dan pariwisata antara kedua negara telah dilakukan upaya antara lain mengangkat beberapa Konsul Kehormatan RI di beberapa kota besar Brazil yakni, São Paulo, Rio de Janeiro, Belo Horizonte dan Recife. Disamping itu, telah diresmikan Camara de Comércio Indonesia–Brazil (Kamar Dagang Indonesia–Brazil) di São Paulo.

Dalam upaya meningkatkan kegiatan promosi dagang Indonesia di Brazil maka telah didirikan ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) di São Paulo. Pendirian ITPC di São Paulo tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Luar Negeri RI No.168/PO/X/97/01 tahun 1997 dan Surat Kepala BPEN No.489/BPEN/XI/2003 dan mendapat autorisasi atau ijin untuk beroperasi dari Pemerintah Brazil berdasarkan Nota Dinas dari Kementerian Luar Negeri Brazil No. : CGPI/DAOCII/DAC/DIM/008/DIMU-BRAS-INDO tertanggal 17 Desember 2003.

  • Situasi Terkini
Dalam beberapa tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia–Brazil mengalami peningkatan yang sangat tajam, dimana pada tahun 2006 sebesar USD 1.131.999.211 yang terdiri dari ekspor Indonesia ke Brazil sebesar USD 650.193.261 dan impor Indonesia dari Brazil sebesar USD 481.805.950. Dengan demikian surplus bagi Indonesia sebesar USD 168.387.311. Dibandingkan dengan total perdagangan kedua negara dalam periode yang sama tahun 2005 yang sebesar USD 954.609.972 maka total perdagangan periode tahun 2006 mengalami  kenaikan sebesar USD 177.058.332 atau sebesar 15,6%. Trend perdagangan Indonesia–Brazil terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan, pada tahun 2007 tercatat nilai perdagangan kedua negara mencapai USD 1.587.283.415.
Neraca Perdagangan Indonesia – Brazil
2004 s/d 2008 (Dalam US$)
2004 s/d 2008 (Dalam US$) Tahun
Ekspor (A)
Ke Brazil
Impor (B)
Dari Brazil
Total (A+B)
Saldo Indonesia
Negatif / Positif
2004
369.802.046
382.903.690
752.705.736
- 13.101.644
2005
456.138.034
498.471.938
954.609.972
- 42.333.904
2006
650.193.261
481.805.950
1.131.999.211
168.387.311
2007
893.847.413
693.436.002
1.587.283.415
200.411.411
2008
1.109.606.061
1.143.062.144
2.252.668.195
-33.456.093
2009
(Jan-Agustus)
629.289.892
673.625.709
1.302.915.601
-44.335.817



     




Sementara itu, total perdagangan Indonesia-Brazil 2008 berhasil mencapai rekor baru yaitu berhasil menembus angka lebih dari 2 milyar USD, tercatat total perdagangan adalah sebesar US$ 2.252.6683195 dengan komposisi impor Indonesia dari Brazil sebesar US$ 1.143.062.144 dan ekspor Indonesia ke Brazil sebesar US$ 1.109.606.051, berarti surplus (saldo positif) sebesar US$ 33.456.093 untuk Brazil.
      
Sedangkan neraca perdagangan kedua negara periode Januari – Agustus 2009 berjumlah USD 1.302.915.601 dengan jumlah ekspor Brazil ke Indonesia sebesar USD 673.625.709 dan jumlah impor sebesar USD 629.289.892 dengan demikian tercatat jumlah surplus untuk Brazil sebesar USD 44.335.817.
Impor non-migas Indonesia dari Brazil pada 2014 mencapai 2,55 miliar dolar Amerika Serikat, dimana nilai tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,23 persen jika dibandingkan tahun 2013 yang sebesar 2,21 miliar dolar AS. Sementara untuk tren impor dalam lima tahun terakhir, menunjukkan peningkatan sebesar 9,94 persen dimana tercatat impor pada tahun 2010 sebesar 1,71 miliar dolar AS, dan pada 2014 menjadi 2,55 miliar dolar AS. Untuk neraca perdagangan non-migas untuk kedua negara pada 2014, Indonesia mengantongi defisit sebesar 1,05 miliar dolar AS.
 SUMBER:
http://www.neraca.co.id/article/51005/perdagangan-indonesia-brazil-dinilai-tak-terpengaruh-hubungan-diplomatik-sempat-panas
Kelompok :    2
Anggota :        Ananda Hasha Salsabila (20216733)
                        Novi Octaviyanti (25216489)
Wisam Kusumahadi Putra (27216685)

By :
Free Blog Templates