Sabtu, 29 April 2017

Kemiskinan dan Kesenjangan di Indonesia



A.    Kemiskinan
Secara harfiah kamus besar Bahasa Indonesia, miskin itu berarti tidak berharta benda. Miskin juga berarti tidak mampu mengimbangi tingkat kebutuhan hidup standard dan tingkat penghasilan dan ekonominya rendah. Secara singkat kemiskinan dapat didefenisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standard kehidupan yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Sedangkan Secara umum kemiskinan diartikan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok atau dasar. Mereka yang dikatakan berada di garis kemiskinan adalah apabila tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.           
Istilah Kemiskinan selalu melekat dan begitu popular dalam masyarakat yang sedang berkembang. Istilah itu sangat mudah diucapkan tetapi begitu mudah untuk menentukan yang miskin itu yang bagaimana siapa yang tergolong penduduk miskin. Untuk memberi pemahaman konseptual,  akan dikemukan dua pengertian kemiskinan, yaitu:
1.      Secara kualitatif, definisi kemiskinan adalah suatu kondisi yang didalamnya hidup manusia tidak layak sebagai manusia, dan 
2.      Secara kuantitatif, kemiskinan adalah suatu keadaan dimana hidup manusia serba kekurangan, atau dengan bahasa yang tidak lazim “tidak berharta benda”.
Dalam membicarakan masalah kemiskinan, kita akan menemui beberapa jenis-jenis kemiskinan yaitu:
1.      Kemiskinan absolut. Seseorang dapat dikatakan miskin jika tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum hidupnya untuk memelihara fisiknya agar dapat bekerja penuh dan efisien,
2.      Kemiskinan relatif. Kemiskinan relatif muncul jika kondisi seseorang atau sekelompok orang dibandingkan dengan kondisi orang lain dalam suatu daerah,
3.      Kemiskinan Struktural. Kemiskinan struktural lebih menuju kepada orang atau sekelompok orang yang tetap miskin atau menjadi miskin karena struktur masyarakatnya yang timpang, yang tidak menguntungkan bagi golongan yang lemah,
4.      Kemiskinan Situsional atau kemiskinan natural. Kemiskinan situsional terjadi di daerah-daerah yang kurang menguntungkan dan oleh karenanya menjadi miskin.
5.      Kemiskinan kultural. Kemiskinan penduduk terjadi karena kultur atau budaya masyarakatnya yang sudah turun temurun yang membuat mereka menjadi miskin.
Kemiskinan terjadi tentunya pasti ada faktor-faktor penyebabnya. Dibawah ini ada 2 Faktor-faktor penyebab manusia, yaitu: 
a.       Faktor-Faktor penyebab kemiskinan secara manusia: 
1.      Sikap dan pola pikir serta wawasan yang rendah, malas berpikir dan bekerja,  
2.      Kurang keterampilan,
3.      Pola hidup konsumtif,
4.      Sikap apatis/egois/pesimis,
5.      Rendah diri,
6.      Adanya gep antara kaya dan miskin,
7.      Belenggu adat dan kebiasaan,
8.      Adanya teknologi baru yang hanya menguntungkan kaum tertentu (kaya),  
9.      Adanya perusakan lingkungan hidup,
10.  Pendidikan rendah,
11.  Populasi penduduk yang tinggi,
12.  Pemborosan dan kurang menghargai waktu,
13.  Kurang motivasi mengembangkan prestasi,
14.  Kurang kerjasama,
15.  Pengangguran dan sempitnya lapangan kerja,
16.  Kesadaran politik dan hukum,
17.  Tidak dapat memanfaatkan SDA dan SDM setempat, dan
18.  Kurangnya tenaga terampil bertumpun  ke kota.  
b.      Faktor-Faktor penyebab kemiskinan secara non manusia: 
1.      Faktor alam, lahan tidak subur/lahan sempit,
2.      Keterampilan atau keterisolasi desa,
3.      Sarana pehubungan tidak ada,
4.      Kurang Fasilitasi umum,
5.      Langkanya modal,  


B.     Kesenjangan
Pengertian kesenjangan sosial adalah kesenjangan yang ditandai dengan adanya peluang dan manfaat yang tidak sama untuk posisi sosial yang berbeda dalam suatu status atau kelompok  masyarakat. Kesenjangan sosial bisa dilihat dari tidak samanya proporsi barang atau jasa, kekayaan, kesempatan, imbalan, dan hukuman yang didapatkan seseorang dengan seseorang lainnya. Kesenjangan ini memiliki pola yang terstruktur dan berulang.
Pengertian kesenjangan sosial ekonomi adalah sebuah gejala yang timbul di dalam masyarakat karena adanya perbedaan batas kemampuan finansial dan yang lainnya di antara masyarakat yang hidup di sebuah lingkungan / wilayah tertentu.
Salah satu bentuk contoh kesenjangan sosial yang bisa dilihat dan banyak terjadi di sekitar kita adalah kesenjangan yang terjadi di antara masyarakat yang tinggal di dalam sebuah komplek perumahan mewah dengan masyarakat yang tinggal di luar / sekitar komplek perumahan mewah tersebut. Di mana dalam kondisi seperti di atas, kita dengan sangat jelas dapat melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan antara kedua kelompok masyarakat tersebut, yang pada kenyataannya tinggal sangat berdekatan (berdampingan) antara satu dengan yang lainnya.
Kesenjangan sosial bukanlah sebuah permasalahan yang bisa diatasi dengan mudah, di mana hal ini menyangkut keberadaan banyak orang dan komunitas yang terlibat di sana dan hal ini tentu saja akan sangat membutuhkan penanganan yang sangat serius oleh pihak-pihak yang berwenang seperti pemerintah dan tokoh masyarakat.
Di dalam perkembangannya, sebuah kesenjangan sosial dapat berakhir dengan berbagai tindakan yang tidak baik atau bahkan mengarah kepada terjadinya berbagai macam tindak kejahatan, di mana orang-orang yang merasa berada di “lingkungan bawah” akan cenderung mengalami ketidak adilan dalam berbagai macam hal dan ini bisa saja memicu terjadinya berbagai macam tindak kejahatan di sebuah lingkungan.
Dalam berbagai kasus, ditemukan banyak kejadian yang menimbulkan kerugian pada pihak-pihak tertentu yang mengalami tindak kejahatan akibat adanya kecemburuan sosial dari seseorang atau bahkan sekelompok orang yang tinggal dekat dengan korban. Hal ini membuktikan bagaimana sebuah kesenjangan sosial adalah hal yang berbahaya dan bisa saja memicu terjadinya berbagai macam tindakan kriminal di antara satu lingkungan yang mengalaminya, karena banyak antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi hal tersebut, salah satunya adalah dengan cara memberdayakan masyarakat dengan baik.
Contoh kesenjangan sosial dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia yaitu :
  • Orang yang tidak mendapatkan gelar Sarjana sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak padahal tidak semua ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi tersebut akan terpakai di bidang pekerjaan tersebut.
  • Koruptor yang korupsi milyaran hanya di tahan 3 tahun sedangkan orang yang maling ayam bisa belasan tahun.
  • Tidak adanya fasilitas transportasi yang cukup layak untuk orang-orang cacat.
  • Kualitas pendidikan di daerah-daerah terpencil yang tidak layak dan tidak seimbang dengan kualitas pendidikan di kota-kota besar, padahal kurikulum dan soal Ujian Nasionalnya sama.
  • Orang yang berpakaian mahal dan necis dengan penampilan klimis diperlakukan pelayan dengan sangat baik dibanding dengan orang yang berpakaian apa adanya.
  • Mobil BMW dan Mercy di Indonesia disediakan parkir khusus VIP dan mendapat perlakuan yang berbeda dengan mobil-mobil lainnya.
Faktor Penyebab Kesenjangan Sosial :
1.      Perbedaan Sumber Daya Alam
Sumber daya alam berhubungan erat dengan tingkat perekonomian suatu daerah. Apabila dapat memanfaatkan suber daya alam dengan baik, laju perekonomian suatu daerah akan meningkat, begitu juga sebaliknya, tingkat perekonomian suatu daerah rendah apabila masyarakat tidak dapat memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal.
2.      Kebijakan Pemerintah
Terkadang kebijakan pemerintah dapat menyebabkan kesenjangan sosial. misalnya kebijakan tentang program transmigrasi. Ketika warga pendatang lebih cepat maju dibandingkan dengan warga asli, ketimpangan sosial dapat terjadi. Ketimpangan tersebut terjadi karena ada ketidak setaraan antar dua kelompok yang seharusnya dapat berkembang bersama-sama
3.      Pengaruh Globalisasi
Masyarakat yang mampu menyikapi globalisasi secara tepat akan mampu memanfaatkan globalisasi untuk mencapai kemajuan. Sementara itu, masyarakat yang tidak mampu memnafaatkan globalisasi secara tepat tidak akan mampu mengambil kesempatan yang ditawarkan globalisasi. bahkan mengalami ketertinggalan.
4.      Faktor Demografis
Kondisi Demografis menunjukan tingkat pertumbuhan dan struktur kependudukan, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, perbedaan kondisi ketenaga kerjaan, serta segala hal yang berkaitan dengan penduduk.  Perbedaan kondisi demografis suatu daerah dapat menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial karena perbedaan produktivitas kerja masyarakat pada setiap daerah.
5.      Letak dan Kondisi Geografis
Letak dan kondisi geografis Indonesia mempengaruhi tingkat pembangunan suatu masyarakat. Masyarakat yang tinggal didataran rendah pada umumnya lebih mudah membangun berbagai infrastruktur, sementara itu masyarakat yang tinggal dataran tinggi memerlukan waktu dan proses panjang dalam pembangunan yang terkendala oleh bentang alam yang menanjak dan tidak merata.

Cara Mengatasi Kesenjangan Sosial :
1.      Dalam hal pendidikan harus diutamakan
2.      Membuka lapangan pekerjaan agar tidak adanya penganguran
3.      Membrantas korupsi agar tidak ada lagi yang korupsi
4.      Meningkatkan sebuah sistem peradilan di Indonesia dan melakukan pengawasan ketat dari mafia peradilan. agar yang mempunyai kekuasan tidak semana-mena sama rakyat kecil.

C.    Pemecahan Masalah
Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah agar dapat mengentaskan masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi adalah :
1.      Mengutamakan pendidikan.
2.      Menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
3.      Meminimalkan korupsi dan memberantas korupsi.
4.      Meningkatkan sistem peradilan di Indonesia dan melakukan pengawasan ketat dari mafia peradilan.
5.      Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama selain beras.
6.      Mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin.
7.      Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin.
8.      Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar.
9.      Membangun dan menyempurnakan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.


SUMBER



Kelompok :     2
Anggota :        Ananda Hasha Salsabila (20216733)
                        Novi Octaviyanti (25216489)
                        Wisam Kusumahadi Putra (27216685)




Tahun 2011
Pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan IV 2011 sebesar 7,6% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ditopang oleh sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) serta sector pengangkutan dan telekomunikasi. Selain itu, kegiatan investasi pelaku usaha dan meningkatnya permintaan domestik mendorong pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya perekonomian terkonfirmasi oleh survei bisnis yang masih menunjukkan optimisme pelaku usaha kendati perekonomian dibayangi perlambatan ekspor.
Hampir seluruh sektor mengalami percepatan pertumbuhan tahunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor yang mengalami percepatan pertumbuhan tertinggi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR). Di samping itu, sektor pertanian serta sektor industri pengolahan yang merupakan sektor utama perekonomian Sumsel juga mengalami akselerasi pertumbuhan. Pertumbuhan di sektor PHR juga merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi kumulatif tahun 2011.
Pertumbuhan ekspor kembali melambat. Nilai ekspor selama tiga bulan terakhir (September 2011 - November 2011) tercatat sebesar USD1.127,58 juta, meningkat sebesar 25,20% (yoy). Kendati demikian, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan periode sebelumnya (Juni - Agustus 2011). Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh turunnya permintaan karet dari pasar internasional. Selain perlambatan yang terjadi, terdapat peralihan ekspor dari Amerika Serikat ke Cina dan Jepang.
Inflasi kota Palembang menurun. Inflasi tahunan kota Palembang pada akhir triwulan IV 2011 sebesar 3,78% (yoy), atau turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,59% (yoy). Tekanan inflasi periode ini tetap terkendali baik dari sisi permintaan maupun sisi penawaran. Kondisi cuaca yang lebih baik dari tahun sebelumnya telah mendukung kegiatan produksi (khususnya di sector pertanian) dan distribusi. Di sisi lain, dampak penurunan harga komoditas di pasar internasional berkorelasi terhadap penurunan pendapatan dan pengeluaran masyarakat sehingga setidaknya telah memberikan andil terciptanya tren penurunan inflasi.
Realisasi inflasi sesuai perkiraan dan konvergen dengan inflasi nasional. Tren penurunan dan capaian inflasi pada triwulan IV 2011 konsisten dengan proyeksi Bank Indonesia Palembang sebagaimana pernah ditulis pada laporan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 4,25± 0,5%. Pencapaian inflasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan batas bawah target inflasi nasional yang sebesar 5±1%. Berdasarkan tren data historis, inflasi Palembang saat ini semakin konvergen dengan inflasi nasional, yang pada triwulan IV 2011 berada di tingkat 3,79%. Realisasi pendapatan fiskal melebihi belanja. Berdasarkan data sementara, Pendapatan daerah Provinsi Sumatera Selatan terealisasi sebesar Rp3.970 miliar atau mencapai 104,8% dari total anggaran perubahan yang sebesar Rp3.789 miliar. Total realisasi belanja daerah mencapai Rp3.800 miliar atau sebesar 92,5% dari anggaran yang sebesar Rp4.107 miliar. Realisasi pendapatan maupun belanja pada tahun 2011 tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian pada tahu sebelumnya.
Tingkat kesejahteraan diperkirakan meningkat. Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan pada tahun 2012 ditetapkan sebesar Rp1.195.220 atau mengalami peningkatan sebesar 14,00%. Sektor ekonomi yang mengalami peningkatan UMP paling tinggi adalah sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perburuan, dan perikanan. Di sisi lain,rata-rata NTP pada triwulan IV 2011 menunjukkan bahwa daya beli petani mengalami peningkatan sebesar 0,17% (qtq). Selain itu, dari sisi ketahanan pangan, penyaluran Raskin pada periode laporan mengalami meningkatan 23,16% (qtq). Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang salah satunya disebabkan oleh kenaikan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja ke depan.
Pertumbuhan ekonomi akan lebih didorong oleh permintaan domestik, khususnya investasi. Permintaan domestik diprediksi akan mendominasi pertumbuhan ekonomi, walaupun secara negatif sudah terpengaruh oleh penurunan harga komoditas unggulan sejak pertengahan tahun. Ekspor diperkirakan melambat karena kondisi dan prospek permintaan eksternal yang semakin memburuk. Faktor penopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan akan berasal dari kinerja komoditas CPO dan batubara yang secara relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi global. Selain itu, terdapat beberapa kerjasama perdagangan internasional yang dapat menahan tingkat pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan, investasi diperkirakan masih tinggi karena pelaku usaha masih optimis atas prospek jangka menengah-panjang, serta ditunjang oleh pemberian predikat investment grade untuk Indonesia.

 Indikator
2010
2011
Tw IV
Tw I
Tw II
Tw III
Tw IV
Pertumbuhan PDRB (yoy, %)
6.0
5.9
6.0
6.1
7.6
Laju Inflasi Tahunan (yoy, %)
6.02
5.13
5.10
4.59
3.78

Tahun 2012
Permintaan domestik mendorong pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2012. Secara kumulatif, pada tahun 2012 ekonomi Sumatera Selatan tumbuh sebesar 6,0% (yoy), atau melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,5%. Meskipun melambat, namun pencapaian tersebut cukup baik pada kondisi ketidakpastian ekonomi global pada tahun 2012 lalu. Angka pertumbuhan tahun 2012 tersebut berada pada kisaran proyeksi Bank Indonesia pada laporan sebelumnya, yaitu 5,9 – 6,4% (yoy). Bila diperhitungkan kinerja keseluruhan tahun, sektor-sektor unggulan Sumatera Selatan masih merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan, investasi dan konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama perekonomian di tahun 2012.
Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi secara triwulanan masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2012 mengalami perlambatan dibandingkan kinerja triwulan sebelumnya dari 5,8% (yoy) menjadi 5,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi melambat dipengaruhi perlambatan pada sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), bersamaan dengan bersamaan dengan melemahnya kinerja ekspor. Adapun pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini ditopang oleh sektor industri pengolahan, sektor PHR serta sektor bangunan sebagai respons meningkatnya konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut berada pada kisaran proyeksi pada laporan sebelumnya, yaitu 5,4 – 5,9% (yoy). Sektor ekonomi tumbuh bervariasi namun secara umum masih tumbuh tinggi.
Perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi. Secara absolut, sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor bangunan, diikuti oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang masing-masing tumbuh sebesar 10,1% dan 9,2% (yoy) di triwulan IV 2012. Pertumbuhan ekspor non migas masih negatif yang diakibatkan penurunan kinerja ekspor karet. Penurunan nilai ekspor bukan dipengaruhi oleh volume ekspor namun karena turunnya harga komoditas. Masih menurunnya harga komoditas karet membuat insentif produksi berkurang sehingga menyebabkan kinerja ekspor komoditas tersebut turun, dan berimplikasi pada kinerja ekspor keseluruhan. Adapun pangsa nilai ekspor terbesar masih didominasi oleh komoditas karet.
Inflasi kota Palembang meningkat tipis.Inflasi tahunan kota Palembang pada akhir triwulan IV 2012 sebesar 2,72% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,60% (yoy), dan sesuai dengan proyeksi pada laporan sebelumnya yang diperkirakan sebesar 3,06 ± 0,5%. Tekanan inflasi periode ini relatif tetap terkendali dari sisi permintaan (demand-pull) karena pertumbuhan konsumsi masyarakat yang terbatas. Selain itu, tekanan inflasi dari sisi penawaran (cost-push) juga rendah karena kondisi pasokan bahan pangan yang baik, walaupun sedikit meningkat di penghujung tahun 2012 karena curah hujan yang tinggi. Selain itu, ekspektasi inflasi jangka pendek mulai meningkat kembali dan menjadi konvergen dengan ekspektasi inflasi dengan jangka waktu yang lebih panjang.
Tingginya curah hujan membuat inflasi volatile foodsmemulai tren peningkatan kembali, namun lebih rendah dibandingkan rata-rata historis. Implikasi kondisi cuaca terutama adalah perkembangan kondisi pasokan pangan, yang tercermin melalui inflasi tahunan bahan makanan atau inflasi komponen volatile foods. Data arus barang total muat dan bongkar di pelabuhan serta arus barang cargo menurun dibandingkan triwulan sebelumnya, disertai perlambatan pertumbuhan tahunan. Namun, inflasi volatile foods pada triwulan IV 2012 lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir. Realisasi belanja pemerintah tinggi pada triwulan IV 2012, meskipun secara keseluruhan tahun terindikasi mengalami kendala. Realisasi pendapatan tahun 2012 mencapai 103,9%, sementara realisasi belanja mencapai 90,8%, masing-masing sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan realisasi APBD pada triwulan IV 2012 mengindikasikan belanja pemerintah yang naik jauh signifikan dibandingkan triwulan III 2012. Untuk tahun 2013, pemerintah menganggarkan peningkatan belanja sebesar 7% dan peningkatan pendapatan sebesar 14,7% dibandingkan anggaran tahun 2012.
Kesejahteraan masyarakat tidak terlalu terpengaruh rendahnya harga komoditas unggulan. Angka kemiskinan menurun sepanjang tahun 2012, Nilai Tukar Petani (NTP) relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, masyarakat secara mayoritas berpendapat bahwa tingkat penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja akan membaik pada Semester II – 2013.
Indikator (% yoy)
2011
2012
Tw IV
Tw I
Tw II
Tw III
Tw IV
Pertumbuhan PDRB
7.6
6.9
6.0
5.8
5.5
Laju Inflasi Tahunan
3.78
3.83
3.94
2.60
2.72






Tahun 2013
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) meningkat pada triwulan IV 2013 didorong oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan ekspor. Peningkatan rumah tangga didorong oleh harga komoditas yang berangsur membaik sehingga kinerja sektor utama Sumsel, yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian membaik.
Sementara itu, inflasi Sumsel mengalami koreksi akibat pasokan bahan pangan yang terjaga. Hal tersebut membuat inflasi volatile food menjadi penyumbang deflasi di tengah inflasi administered price yang mengalami peningkatan akibat kenaikan harga Tarif Tenaga Listrik Tahap IV pada bulan Oktober 2013. Inflasi yang rendah ini membuat Sumsel menjadi provinsi dengan inflasi tahun 2013 terendah se-Sumatera.

Indikator
2013
2014
I
II
III
IV
2013
IP
2014P
Pertumbuhan Ekonomi
6.2
6.1
5.4
6,6
6.0
6,1 – 6,6
5,9 – 6,4
Inflasi
5,23
4,74
7,21
7.04
7.04
6,12 – 6,62
4,3 – 4,8

Tahun 2014
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan meningkat. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2014 meningkat cukup signifikan sebesar 5,96% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,10% (yoy). Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya konsumsi dan membaiknya kinerja ekspor. Sementara dari sisi sektoral, pertumbuhan didorong oleh peningkatan kinerja 3 sektor utama yaitu sektor pertambangan dan penggalian (pertambangan), sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor (perdagangan). Tingginya pertumbuhan tahunan sektor pertambangan memberikan andil yang besar bagi perekonomian Sumatera Selatan. Sedangkan Sektor pertanian tumbuh melambat sejalan dengan melambatnya sub sektor perkebunan tahunan yaitu karet dan kelapa sawit. Secara keseluruhan tahun 2014, sektor pertanian tumbuh sebesar 4,1%. Pertumbuhan berasal dari pertumbuhan sub sektor perikanan, kehutanan, dan pertanian terutama perkebunan tahunan yang didorong oleh kinerja perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut tercermin dari rata-rata harga CPO maupun harga inti sawit pada tahun 2014 yang meningkat masing-masing 16,3% dan 46,7% dibandingkan tahun 2013.
Inflasi Sumatera Selatan meningkat pasca kenaikan harga BBM bersubsidi di pertengahan triwulan IV 2014. Pada triwulan IV 2014, inflasi Sumsel tercatat 8,48% (yoy) meningkat cukup tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2014 sebesar 3,26% (yoy). Capaian inflasi tersebut  berada diatas inflasi nasional, dimana pada periode sebelumnya inflasi Sumsel selalu berada di bawah inflasi nasional.
Perkembangan tekanan inflasi dari sisi permintaan terindikasi melambat. Harga komoditas unggulan Sumatera Selatan, seperti karet dan kelapa sawit masih belum mengalami perbaikan yang signifikan. Nilai Tukar Petani (NTP) juga menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, yang mengindikasikan penurunan jumlah upah yang diterima oleh petani relatif terhadap harga barang yang dibeli. Inflasi tahun 2014 jauh lebih tinggi dibanding tahun 2013.
Inflasi tahun 2014 mengalami peningkatan akibat beberapa kebijakan yang diterapkan pada tahun ini. Menurut komoditasnya, penyumbang inflasi tertinggi  pada triwulan IV 2014 adalah komoditas solar, angkutan dalam kota, dan bensin. Kenaikan bensin dan solar akibat kebijakan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM bersubsidi selanjutnya juga diikuti dengan kenaikan tarif angkutan dalam kota. Sementara itu, kenaikan tarif listrik berkala juga dilakukan pada bulan November. 
Kinerja perbankan mengalami peningkatan. Total aset perbankan Sumatera Selatan pada triwulan IV 2014 masih tumbuh mencapai Rp 77,1 triliun, walaupun sedikit melambat dari 9,5% (yoy) menjadi 9,36 (yoy). Di sisi lain, DPK tetap tumbuh sebesar 6,6% (yoy) atau mencapai Rp 57,2 triliun, meningkat dibandingkan triwulan III yang sebesar 5,9% (yoy). Peningkatan jumlah DPK terjadi akibat peningkatan jumlah tabungan dan deposito, sementara giro mengalami penurunan. Penyaluran kredit tumbuh melambat dari 14,9% (yoy) pada triwulan III 2014 menjadi 13,6% (yoy) atau mencapai Rp 85,9 triliun pada triwulan IV 2014. Walaupun terjadi perlambatan kredit namun kualitas kredit di triwulan IV mengalami sedikit peningkatan, terlihat dari rasio NPL yang turun menjadi 2,60%. Kondisi tersebut mengakibatkan Loan-to-Deposit Ratio meningkat dari 147,39% di triwulan III 2014 menjadi 150,14%.
Realisasi pendapatan Pemerintah Provinsi Sumsel selama tahun 2014 mencapai 96,44% lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Realisasi pendapatan terbesar adalah dari pendapatan transfer. Diikuti oleh realisasi pendapatan asli daerah. Komponen terbesar dalam pendapatan transfer bersumber dari Dana Perimbangan yang terutama berasal dari Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) dan Dana Alokasi Umum. Realisasi belanja pada triwulan IV 2014 mencapai Rp5,78 triliun rupiah atau sebesar 95,58% dari total anggaran. Realisasi pendapatan terbesar disumbangkan oleh komponen belanja operasi. Sedangkan komponen belanja tak terduga menyumbang realisasi terendah yakni sebesar 20,83%.
Kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Selatan menurun. Peningkatan jumlah penganggur sampai dengan bulan Agustus 2014 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jumlah angkatan kerja, sehingga membuat angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat. Sementara itu, peningkatan jumlah angkatan kerja juga ditandai oleh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat.

Tahun 2015
Di akhir tahun 2015, ekonomi Sumatera Selatan tercatat tumbuh melambat. Hal ini dipengaruhi oleh, antara lain, perlambatan ekonomi global yang masih melanda dunia. Secara keseluruhan tahun, ekonomi Sumatera Selatan di tahun 2015 tumbuh sebesar 4,50% (yoy) atau sedikit melambat jika dibandingkan di tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,70% (yoy). Sedangkan pertumbuhan di triwulan IV 2015 ekonomi Sumatera Selatan tumbuh sebesar 3,94% (yoy) atau turun jika dibandingkan dengan triwulan III 2015 yang tumbuh sebesar 4,75% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan masih mengandalkan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah, sedangkan dari sisi penawaran pertumbuhan ditopang oleh sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan. ​
Secara tahunan, realisasi inflasi Sumatera Selatan triwulan IV 2015 sebesar 3,10% (yoy), turun dibandingkan dengan triwulan III 2015 yang sebesar 4,75% (yoy). Realisasi inflasi Sumatera Selatan tahun 2015 tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional yang sebesar 3,35% (yoy) dan masih berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 4%±1%. ​
Bertepatan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi, kinerja perbankan di provinsi Sumatera Selatan mengalami perlambatan, terlihat dari perlambatan penyaluran kredit maupun penghimpunan DPK. Di sisi lain, transaksi keuangan di Sumatera Selatan triwulan ini mengalami peningkatan pada Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI). ​

Tahun 2016
            Ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2016 tumbuh meningkat sebesar 5,15% (yoy). Secara keseluruhan tahun 2016 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03% (yoy). Realisasi
tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 yang berada pada level 4,5% (yoy).
Realisasi pendapatan daerah triwulan IV 2016 lebih baik dibandingkan dengan triwulan IV 2015. Realisasi pendapatan di triwulan IV 2016 tercatat sebesar Rp6,53 triliun atau 93,29% terhadap APBD 2016, lebih tinggi dibandingkan realisasi pendapatan triwulan IV 2015 yang sebesar 85,26%. Realisasi pendapatan tersebut meningkat 39,34% atau sebesar Rp1,84 Triliun dibandingkan realisasi pendapatan triwulan III 2016. Sementara itu, realisasi belanja triwulan IV 2016 sebesar Rp4,04 triliun atau 89,93% terhadap APBD 2016, lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja triwulan III 2015 yang sebesar 80,11%.
Inflasi Sumatera Selatan di triwulan IV 2016 sebesar 3,58% (yoy) mengalami penurunan dibandingkan realisasi inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 4,37% (yoy). Realisasi tersebut sesuai dengan sasaran inflasi nasional yang sebesar 4±1% (yoy).
Sektor keuangan menunjukkan perbaikan. Kinerja kredit mengalami pertumbuhan positif sebesar 10,57% (yoy),meningkat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya  sebesar 9,46% (yoy). Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh positif sebesar 5,73%(yoy) setelah triwulan
sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 4,04% (yoy). Sejalan dengan DPK, aset perbankan Sumsel mengalami pertumbuhan sebesar 8,34% (yoy), membaik dari triwulan sebelumnya dimana mengalami kontraksi sebesar 1,98% (yoy). Nominal penghimpunan DPK yang lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit menyebabkan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 162,50% pada triwulan IV 2016, sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 162,35%.  Secara nominal, transaksi kliring triwulan IV 2016 mencapai Rp13,91 triliun atau tumbuh sebesar 21,65% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 24,58% (yoy). Di sisi lain, jumlah warkat yang ditransaksikan yang tumbuh 22,86% (yoy) atau mencapai 381.319 lembar, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara peredaran uang kartal di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2016 menunjukkan posisi net outflow sebesar Rp1,84 triliun. Kondisi tersebut berlawanan dibandingkan triwulan lalu yang mengalami net inflow sebesar Rp1,80 triliun.
Tingkat kesejahteraan petani di Sumatera Selatan pada triwulan IV 2016 menunjukkan perbaikan. Perbaikan ini tergambar pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. NTP pada triwulan IV 2016 tercatat sebesar 95,45 naik dibanding triwulan sebelumnya sebesar 94,11. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan pada September 2016 mencapai 1.096,50 ribu orang (13,39%). Kondisi ini membaik jika dibandingkan dengan Maret 2016 sebesar 13,54%.

SUMBER :
http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/sumsel/Default.aspx


Kelompok :     2
Anggota :        Ananda Hasha Salsabila (20216733)
                        Novi Octaviyanti (25216489)
                        Wisam Kusumahadi Putra (27216685)

By :
Free Blog Templates