|
Arab Saudi PDB
|
Terakhir
|
Sebelum Ini
|
Tertinggi
|
Paling Rendah
|
Satuan
|
|
0.90
|
1.40
|
27.49
|
-11.10
|
Persen
|
|
|
1.20
|
0.90
|
27.49
|
-11.10
|
Persen
|
|
|
646.00
|
753.83
|
753.83
|
4.19
|
Usd - Miliar
|
|
|
661612.00
|
638579.00
|
661612.00
|
475144.00
|
Sar - Juta
|
|
|
140536.00
|
139579.00
|
199621.00
|
101572.00
|
Sar - Juta
|
|
|
21312.82
|
21030.92
|
27263.10
|
14232.22
|
USD
|
|
|
50283.93
|
49618.85
|
50283.93
|
33578.49
|
USD
|
|
|
13272.00
|
14943.00
|
14943.00
|
10354.00
|
Sar - Juta
|
|
|
30346.00
|
30329.00
|
31972.00
|
21969.00
|
Sar - Juta
|
|
|
77718.00
|
76445.00
|
79210.00
|
53468.00
|
Sar - Juta
|
|
|
264505.00
|
266625.00
|
266625.00
|
189221.00
|
Sar - Juta
|
|
|
38853.00
|
34321.00
|
38853.00
|
24028.00
|
Sar - Juta
|
|
|
5907.00
|
13693.00
|
13693.00
|
3141.00
|
Sar - Juta
|
Produk Domestik
Bruto (PDB) di Arab Saudi bernilai 646 miliar dolar AS pada tahun 2015. Nilai
PDB Arab Saudi mewakili 1,04 persen dari ekonomi dunia. PDB di Arab Saudi
rata-rata mencapai 214,15 USD Miliar dari tahun 1968 sampai 2015, mencapai
titik tertinggi sepanjang masa di 753,83 miliar dolar AS pada tahun 2014 dan
rekor rendah 4,19 miliar dolar pada tahun 1968.
Arab Saudi
selama triwulan pertama tahun 2016 berada di titik terendah sepanjang tiga
tahun lalu. Anjoknya harga minyak dunia memicu defisit anggaran besar bagi
negara kaya minyak itu. Perang yang disulut rezim Al Saud dan dukungan
finansial Riyadh terhadap teroris, menjadi factor utama penurunana signifikan
pertumbuhan ekonomi Arab Saudi.
Rebound harga
minyak dan kebijakan fiskal yang kurang ketat menopang aktivitas ekonomi pada
Q4 2016. PDB meluas 1,2% setiap tahun di Q4, naik dari level terendah multi
tahun Q3 sebesar 0,9%. Namun demikian, kondisi ekonomi tetap lemah secara
keseluruhan karena defisit fiskal Arab Saudi yang besar terus berlanjut setelah
mendapatkan dukungan pemerintah, sementara masih rendahnya harga minyak mentah
membatasi kenaikan di industri minyak yang sangat penting.
Sektor minyak
meluas 4,0% per tahun di Q4, yang menandai percepatan kenaikan Q3 sebesar 3,6%.
Perbaikan tersebut terutama mencerminkan kenaikan harga minyak, yang melonjak
dari USD 43,6 per barel di Q3 menjadi USD 47,6 per barel di Q4. Harga minyak
mulai naik pada akhir September, menyusul kesepakatan tentatif yang dicapai
oleh anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk membatasi pasokan
minyak mentah. Di bawah kesepakatan akhir yang diformalkan pada bulan November,
Arab Saudi mengambil bagian terbesar dari pemotongan tersebut. Kerajaan mulai
menerapkan kesepakatan bulan itu, yang mengakibatkan pengurangan produksi
minyak dari 10,60 juta barel per hari (mbpd) pada Q3 menjadi 10,54 mbpd pada
Q4.
Harga minyak
mentah yang lebih tinggi mengambil beberapa tekanan dari pasar keuangan
domestik dan mendorong kepercayaan pasar. Akibatnya, aktivitas di sektor
non-migas pulih dari kontraksi 0,7% pada Q3 menjadi ekspansi 0,4% di Q4. Di
tingkat sektor, sektor keuangan berkembang dengan laju tercepat dalam hampir
tiga tahun, sementara segmen transportasi dan komunikasi meningkat dengan
kecepatan yang sehat. Layanan pemerintah diuntungkan oleh pengetatan yang lebih
lembut, dan rebound ke pertumbuhan 0,4% pada Q4 (Q3: -3,9% tahun ke tahun).
Pertumbuhan
tahun ini akan terganggu oleh output minyak mentah yang lebih rendah sesuai
dengan kesepakatan minyak OPEC, risiko geopolitik dan dukungan kebijakan yang
lemah karena defisit anggaran Kerajaan yang besar. Namun demikian, harga minyak
mentah yang lebih tinggi dan pelaksanaan agenda reformasi Vision 2030 Arab
Saudi akan membantu pertumbuhan untuk pulih dalam jangka panjang. Landasan
strategi diversifikasi Kerajaan adalah penjualan parsial Aramco, penghasil
minyak mentah terbesar di dunia, akhir tahun depan. Dalam upaya untuk membuat
penjualan tersebut lebih menarik bagi investor internasional, pada tanggal 27
Maret, pemerintah mengurangi tarif pajak yang diterapkan perusahaan dari 85%
menjadi 50%, menerapkannya secara surut mulai 1 Januari. Perusahaan juga
membayar royalti 20% atas pendapatan. Tarif pajak adalah kunci untuk menentukan
penilaian perusahaan, yang pejabat pemerintah tetapkan sebesar USD 2 triliun.
Dana Moneter
Internasional (IMF) memprediksi ekonomi Arab Saudi akan sulit untuk tumbuh pada
tahun 2017. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Arab Saudi 0,4 persen tahun
ini, turun cukup drastis dibandingkan proyeksi pada Oktober 2016 lalu yang
mencapai 2 persen. Mengutip CNN Money, Rabu (18/1/2017), penurunan proyeksi
tersebut disebabkan keputusan pemangkasan produksi oleh Organisasi
Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Pada Desember 2016 lalu, Arab Saudi dan
anggota OPEC lainnya sepakat memangkas
produksi minyak untuk mengerek harga.
Asisten Direktur
Departemen Timur Tengah dan Asia Tengah IMF Timothy Callen menjelaskan, hasil
perekonomian Arab Saudi dari minyak dapat menurun tahun ini. "Kami masih
mengekspektasi adanya peningkatan, tapi tidak sekuat yang kami perkirakan
sebelumnya," ungkap Callen. Penurunan harga minyak secara tajam memaksa
Arab Saudimemikirkan kembali strategi ekonominya. Tahun lalu, negara itu
mengumumkan Visi 2030 yang berisi rencana menggeser ekonomi dari minyak.
Pada 2015,
defisit anggaran Arab Saudi mencapai 366 miliar riyal atau 98 miliar dollar AS
dan pada 2016 mencapai 297 miliar riyal pada tahun 2016. Untuk menambal
anggaran yang bolong, Arab Saudi pun terpaksa berutang untuk pertama kalinya
sepanjang sejarah, di mana negara itu berhasil memperoleh dana 17,5 miliar
dollar AS. Arab Saudi pun sudah memangkas subsidi energi, memotong gaji pegawai
pemerintah, dan memperingatkan adanya penghematan selama empat tahun.
Pendapatan
nasional Arab Saudi berasal sebagian besar dari haji
dan umrah, dan Arab Saudi pula pernah menjadi
rekor tahun 2012 mencapai USD218,7 dan pendapatan
Arab Saudi juga berasal dari minyak ekspor. Arab Saudi memiliki ekonomi berbasis minyak dengan
kontrol pemerintah yang kuat terhadap kegiatan ekonomi utama. Hal ini memiliki
sekitar 16% dari cadangan minyak dunia terbukti, peringkat sebagai eksportir
terbesar minyak bumi, dan memainkan peran utama dalam OPEC. Sektor minyak bumi
menyumbang sekitar 80% dari pendapatan anggaran, 45% dari PDB, dan 90% dari
pendapatan ekspor. Arab Saudi mendorong pertumbuhan sektor swasta dalam rangka
diversifikasi ekonomi dan untuk mempekerjakan warga negara Saudi yang lebih.
Upaya diversifikasi berfokus pada pembangkit listrik, telekomunikasi,
eksplorasi gas alam, dan sektor petrokimia. Lebih dari 6 juta pekerja asing
memainkan peran penting dalam perekonomian Saudi, khususnya di sektor minyak
dan layanan, sementara Riyadh sedang berjuang untuk mengurangi pengangguran di
kalangan warga sendiri. Pejabat Saudi secara khusus berfokus pada mempekerjakan
penduduk muda yang besar, yang umumnya tidak memiliki keterampilan pendidikan
dan teknis kebutuhan sektor swasta. Riyadh telah secara substansial
meningkatkan pengeluaran untuk pendidikan dan pelatihan kerja, terakhir dengan
pembukaan Raja Abdullah Universitas Sains dan Teknologi - Arab Saudi pertama universitas
co-pendidikan. Sebagai bagian dari upaya untuk menarik investasi asing, Arab
Saudi memfasilitasi WTO pada tahun 2005 Pemerintah telah mulai membangun enam
"kota ekonomi" di berbagai daerah negara itu untuk mempromosikan
investasi asing dan berencana untuk menghabiskan $373.000.000.000 antara tahun
2010 dan 2014 di pembangunan sosial dan proyek-proyek infrastruktur untuk
memajukan pembangunan ekonomi Arab Saudi.
Menurut laporan Perkembangan
Ekonomi dan Outlook Saudi real GDP Arab Saudi mencapai 3 persen pada tahun 2013
pertumbuhan ini didorong oleh sektor migas dan sektor non migas. National
Commercial Bank (NCB) melaporkan Neraca transaksi berjalan Arab Saudi diperkirakan
akan surplus pada tahun 2013. Berdasarkan harga minyak dan asumsi produksi,
diperkirakan pendapatan minyak ekspor menurun sebesar 6,6 persen ke rekor
mendekati $ 325 miliar. Sementara itu, ekspor nonmigas juga diperkirakan
menyusut menjadi hampir 13,7 persen sampai $ 42 miliar karena penurunan harga
internasional untuk petrokimia dan produk sampingan lainnya yang terkait dengan
minyak.
Nilai ekspor Arab Saudi pada
bulan Januari 2013 naik 2,87% mencapai SR 15,082 miliar dibandingkan dengan
periode yang sama tahun 2012, yang hanya mencapai SR 14,662 miliar. Sementara
itu, nilai impor Arab Saudi bulan Januari 2013 mencapai SR 49,752 miliar
dibandingkan dengan SR 45,148 miliar, pada bulan Januari 2012, meningkat
sebesar SR 4,604 miliar, atau naik 10,2% dibanding periode yang sama tahun
2012.
Adapun 5 negara teratas tujuan
ekspor Arab Saudi pada bulan Januari 2013; yang pertama adalah Cina dengan
nilai total mencapai SR 2,25 miliar, disusul oleh Uni Emirat Arab dengan
nominal ekspor mencapai SR 1,41 miliar. Diposisi ketiga ada Amerika Serikat
dengan angka 1,04 miliar, kemudian Singapore diurutan keempat dengan nilai
ekspor SR 761 juta dan yang kelima adalah India dengan nilai total ekspor
mencapai SR 723 juta.
Sedangkan 5 besar negara
pengimpor ke Arab Saudi pada bulan Januari 2013 adalah Cina yang mencapai SR
6,81 miliar, kemudian Amerika Serikat senilai SR 6,66 miliar, lalu Republik
Korea SR3,64 miliar, Jerman SR 3,32 miliar dan Jepang SR 3,26 miliar.
SUMBER
Kelompok : 2
Anggota : Ananda Hasha
Salsabila (20216733)
Novi
Octaviyanti (25216489)
Wisam
Kusumahadi Putra (27216685)
