Tahun 2011
Pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan IV 2011
sebesar 7,6% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ditopang oleh sektor Perdagangan,
Hotel, dan Restoran (PHR) serta sector pengangkutan
dan telekomunikasi. Selain itu, kegiatan investasi pelaku usaha dan meningkatnya permintaan domestik
mendorong pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya
perekonomian terkonfirmasi oleh survei bisnis yang masih menunjukkan optimisme pelaku usaha kendati perekonomian dibayangi perlambatan ekspor.
Hampir seluruh sektor mengalami percepatan
pertumbuhan tahunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Sektor yang
mengalami percepatan pertumbuhan tertinggi adalah sektor pengangkutan dan
komunikasi, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR). Di
samping itu, sektor pertanian serta sektor industri pengolahan yang merupakan
sektor utama perekonomian Sumsel juga mengalami akselerasi pertumbuhan.
Pertumbuhan di sektor PHR juga merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi
kumulatif tahun 2011.
Pertumbuhan ekspor kembali melambat. Nilai
ekspor selama tiga bulan terakhir (September 2011 - November 2011) tercatat
sebesar USD1.127,58 juta, meningkat sebesar 25,20% (yoy). Kendati demikian,
pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan periode sebelumnya (Juni - Agustus
2011). Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh turunnya permintaan karet dari
pasar internasional. Selain perlambatan yang terjadi, terdapat peralihan ekspor
dari Amerika Serikat ke Cina dan Jepang.
Inflasi kota Palembang menurun. Inflasi
tahunan kota Palembang pada akhir triwulan IV 2011 sebesar 3,78% (yoy), atau
turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,59% (yoy). Tekanan
inflasi periode ini tetap terkendali baik dari sisi permintaan maupun sisi
penawaran. Kondisi cuaca yang lebih baik dari tahun sebelumnya telah mendukung
kegiatan produksi (khususnya di sector pertanian) dan distribusi. Di sisi lain,
dampak penurunan harga komoditas di pasar internasional berkorelasi terhadap
penurunan pendapatan dan pengeluaran masyarakat sehingga setidaknya telah
memberikan andil terciptanya tren penurunan inflasi.
Realisasi inflasi sesuai perkiraan dan konvergen
dengan inflasi nasional. Tren penurunan dan capaian inflasi pada
triwulan IV 2011 konsisten dengan proyeksi Bank Indonesia Palembang sebagaimana
pernah ditulis pada laporan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 4,25± 0,5%.
Pencapaian inflasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan batas bawah target
inflasi nasional yang sebesar 5±1%. Berdasarkan tren data historis, inflasi
Palembang saat ini semakin konvergen dengan inflasi nasional, yang pada
triwulan IV 2011 berada di tingkat 3,79%. Realisasi pendapatan fiskal melebihi belanja. Berdasarkan data
sementara, Pendapatan daerah Provinsi Sumatera Selatan terealisasi sebesar
Rp3.970 miliar atau mencapai 104,8% dari total anggaran perubahan yang sebesar
Rp3.789 miliar. Total realisasi belanja daerah mencapai Rp3.800 miliar atau
sebesar 92,5% dari anggaran yang sebesar Rp4.107 miliar. Realisasi pendapatan
maupun belanja pada tahun 2011 tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan
pencapaian pada tahu sebelumnya.
Tingkat kesejahteraan diperkirakan meningkat. Upah
Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan pada tahun 2012 ditetapkan sebesar
Rp1.195.220 atau mengalami peningkatan sebesar 14,00%. Sektor ekonomi yang
mengalami peningkatan UMP paling tinggi adalah sektor pertanian, peternakan,
kehutanan, perburuan, dan perikanan. Di sisi lain,rata-rata NTP pada triwulan
IV 2011 menunjukkan bahwa daya beli petani mengalami peningkatan sebesar 0,17%
(qtq). Selain itu, dari sisi ketahanan pangan, penyaluran Raskin pada periode
laporan mengalami meningkatan 23,16% (qtq). Hal tersebut juga dikonfirmasi oleh
kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang salah satunya disebabkan oleh kenaikan
penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja ke depan.
Pertumbuhan ekonomi akan lebih didorong oleh
permintaan domestik, khususnya investasi. Permintaan domestik
diprediksi akan mendominasi pertumbuhan ekonomi, walaupun secara negatif sudah
terpengaruh oleh penurunan harga komoditas unggulan sejak pertengahan tahun.
Ekspor diperkirakan melambat karena kondisi dan prospek permintaan eksternal
yang semakin memburuk. Faktor penopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan
akan berasal dari kinerja komoditas CPO dan batubara yang secara relatif lebih
tahan terhadap perlambatan ekonomi global. Selain itu, terdapat beberapa
kerjasama perdagangan internasional yang dapat menahan tingkat pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi permintaan, investasi diperkirakan masih tinggi karena pelaku usaha
masih optimis atas prospek jangka menengah-panjang, serta ditunjang oleh
pemberian predikat investment grade untuk Indonesia.
|
Indikator
|
2010
|
2011
|
|||
|
Tw IV
|
Tw I
|
Tw II
|
Tw III
|
Tw IV
|
|
|
Pertumbuhan PDRB (yoy, %)
|
6.0
|
5.9
|
6.0
|
6.1
|
7.6
|
|
Laju Inflasi Tahunan (yoy, %)
|
6.02
|
5.13
|
5.10
|
4.59
|
3.78
|
Tahun 2012
Permintaan domestik mendorong
pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2012. Secara kumulatif, pada tahun 2012
ekonomi Sumatera Selatan tumbuh sebesar 6,0% (yoy), atau melambat dibandingkan
tahun sebelumnya yang sebesar 6,5%. Meskipun melambat, namun pencapaian
tersebut cukup baik pada kondisi ketidakpastian ekonomi global pada tahun 2012
lalu. Angka pertumbuhan tahun 2012 tersebut berada pada kisaran proyeksi Bank
Indonesia pada laporan sebelumnya, yaitu 5,9 – 6,4% (yoy). Bila diperhitungkan
kinerja keseluruhan tahun, sektor-sektor unggulan Sumatera Selatan masih
merupakan kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Dari sisi permintaan,
investasi dan konsumsi rumah tangga merupakan penopang utama perekonomian di
tahun 2012.
Tren perlambatan pertumbuhan
ekonomi secara triwulanan masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan
pada triwulan IV 2012 mengalami perlambatan dibandingkan kinerja triwulan
sebelumnya dari 5,8% (yoy) menjadi 5,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi melambat
dipengaruhi perlambatan pada sektor pertanian dan sektor perdagangan, hotel,
dan restoran (PHR), bersamaan dengan bersamaan dengan melemahnya kinerja
ekspor. Adapun pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini ditopang oleh sektor
industri pengolahan, sektor PHR serta sektor bangunan sebagai respons
meningkatnya konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga. Angka
pertumbuhan ekonomi tersebut berada pada kisaran proyeksi pada laporan sebelumnya,
yaitu 5,4 – 5,9% (yoy). Sektor ekonomi tumbuh bervariasi namun secara umum
masih tumbuh tinggi.
Perlambatan pertumbuhan terjadi
pada sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor
pengangkutan dan telekomunikasi. Secara absolut, sektor yang mengalami pertumbuhan
tertinggi adalah sektor bangunan, diikuti oleh sektor keuangan, persewaan dan
jasa perusahaan yang masing-masing tumbuh sebesar 10,1% dan 9,2% (yoy) di
triwulan IV 2012. Pertumbuhan ekspor non migas masih negatif yang diakibatkan
penurunan kinerja ekspor karet. Penurunan nilai ekspor bukan dipengaruhi oleh
volume ekspor namun karena turunnya harga komoditas. Masih menurunnya harga
komoditas karet membuat insentif produksi berkurang sehingga menyebabkan
kinerja ekspor komoditas tersebut turun, dan berimplikasi pada kinerja ekspor
keseluruhan. Adapun pangsa nilai ekspor terbesar masih didominasi oleh
komoditas karet.
Inflasi kota Palembang meningkat
tipis.Inflasi tahunan kota Palembang pada akhir triwulan IV 2012 sebesar 2,72%
(yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,60%
(yoy), dan sesuai dengan proyeksi pada laporan sebelumnya yang diperkirakan
sebesar 3,06 ± 0,5%. Tekanan inflasi periode ini relatif tetap terkendali dari
sisi permintaan (demand-pull) karena pertumbuhan konsumsi masyarakat yang
terbatas. Selain itu, tekanan inflasi dari sisi penawaran (cost-push) juga
rendah karena kondisi pasokan bahan pangan yang baik, walaupun sedikit
meningkat di penghujung tahun 2012 karena curah hujan yang tinggi. Selain itu,
ekspektasi inflasi jangka pendek mulai meningkat kembali dan menjadi konvergen
dengan ekspektasi inflasi dengan jangka waktu yang lebih panjang.
Tingginya curah hujan membuat
inflasi volatile foodsmemulai tren peningkatan kembali, namun lebih rendah
dibandingkan rata-rata historis. Implikasi kondisi cuaca terutama adalah
perkembangan kondisi pasokan pangan, yang tercermin melalui inflasi tahunan
bahan makanan atau inflasi komponen volatile foods. Data arus barang total muat
dan bongkar di pelabuhan serta arus barang cargo menurun dibandingkan triwulan
sebelumnya, disertai perlambatan pertumbuhan tahunan. Namun, inflasi volatile
foods pada triwulan IV 2012 lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir.
Realisasi belanja pemerintah tinggi pada triwulan IV 2012, meskipun secara
keseluruhan tahun terindikasi mengalami kendala. Realisasi pendapatan tahun
2012 mencapai 103,9%, sementara realisasi belanja mencapai 90,8%, masing-masing
sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan realisasi APBD pada
triwulan IV 2012 mengindikasikan belanja pemerintah yang naik jauh signifikan
dibandingkan triwulan III 2012. Untuk tahun 2013, pemerintah menganggarkan peningkatan
belanja sebesar 7% dan peningkatan pendapatan sebesar 14,7% dibandingkan
anggaran tahun 2012.
Kesejahteraan masyarakat tidak
terlalu terpengaruh rendahnya harga komoditas unggulan. Angka kemiskinan
menurun sepanjang tahun 2012, Nilai Tukar Petani (NTP) relatif stabil
dibandingkan triwulan sebelumnya. Selain itu, masyarakat secara mayoritas
berpendapat bahwa tingkat penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja akan
membaik pada Semester II – 2013.
|
Indikator (% yoy)
|
2011
|
2012
|
|||
|
Tw IV
|
Tw I
|
Tw II
|
Tw III
|
Tw IV
|
|
|
Pertumbuhan
PDRB
|
7.6
|
6.9
|
6.0
|
5.8
|
5.5
|
|
Laju
Inflasi Tahunan
|
3.78
|
3.83
|
3.94
|
2.60
|
2.72
|
Tahun 2013
Pertumbuhan ekonomi Sumatera
Selatan (Sumsel) meningkat pada triwulan IV 2013 didorong oleh pertumbuhan
konsumsi rumah tangga dan ekspor. Peningkatan rumah tangga didorong oleh harga
komoditas yang berangsur membaik sehingga kinerja sektor utama Sumsel, yaitu
sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian membaik.
Sementara itu, inflasi Sumsel
mengalami koreksi akibat pasokan bahan pangan yang terjaga. Hal tersebut
membuat inflasi volatile food menjadi penyumbang deflasi di tengah inflasi administered
price yang mengalami peningkatan akibat kenaikan harga Tarif Tenaga Listrik
Tahap IV pada bulan Oktober 2013. Inflasi yang rendah ini membuat Sumsel
menjadi provinsi dengan inflasi tahun 2013 terendah se-Sumatera.
|
Indikator
|
2013
|
2014
|
|||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
2013
|
IP
|
2014P
|
|
|
Pertumbuhan Ekonomi
|
6.2
|
6.1
|
5.4
|
6,6
|
6.0
|
6,1 – 6,6
|
5,9 – 6,4
|
|
Inflasi
|
5,23
|
4,74
|
7,21
|
7.04
|
7.04
|
6,12 – 6,62
|
4,3 – 4,8
|
Tahun 2014
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan meningkat. Pertumbuhan
ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2014 meningkat cukup signifikan
sebesar 5,96% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,10% (yoy).
Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatnya konsumsi dan membaiknya kinerja
ekspor. Sementara dari sisi sektoral, pertumbuhan didorong oleh peningkatan
kinerja 3 sektor utama yaitu sektor pertambangan dan penggalian (pertambangan),
sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan besar dan eceran, dan
reparasi mobil dan sepeda motor (perdagangan). Tingginya pertumbuhan tahunan
sektor pertambangan memberikan andil yang besar bagi perekonomian Sumatera
Selatan. Sedangkan Sektor pertanian tumbuh melambat sejalan dengan melambatnya
sub sektor perkebunan tahunan yaitu karet dan kelapa sawit. Secara keseluruhan
tahun 2014, sektor pertanian tumbuh sebesar 4,1%. Pertumbuhan berasal dari
pertumbuhan sub sektor perikanan, kehutanan, dan pertanian terutama perkebunan
tahunan yang didorong oleh kinerja perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut
tercermin dari rata-rata harga CPO maupun harga inti sawit pada tahun 2014 yang
meningkat masing-masing 16,3% dan 46,7% dibandingkan tahun 2013.
Inflasi Sumatera Selatan meningkat pasca kenaikan harga
BBM bersubsidi di pertengahan triwulan IV 2014. Pada triwulan IV 2014, inflasi
Sumsel tercatat 8,48% (yoy) meningkat cukup tinggi dibandingkan dengan triwulan
III 2014 sebesar 3,26% (yoy). Capaian inflasi tersebut berada diatas inflasi nasional, dimana pada
periode sebelumnya inflasi Sumsel selalu berada di bawah inflasi nasional.
Perkembangan tekanan inflasi dari sisi permintaan
terindikasi melambat. Harga komoditas unggulan Sumatera Selatan, seperti karet
dan kelapa sawit masih belum mengalami perbaikan yang signifikan. Nilai Tukar
Petani (NTP) juga menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, yang
mengindikasikan penurunan jumlah upah yang diterima oleh petani relatif
terhadap harga barang yang dibeli. Inflasi tahun 2014 jauh lebih tinggi
dibanding tahun 2013.
Inflasi tahun 2014 mengalami peningkatan akibat beberapa
kebijakan yang diterapkan pada tahun ini. Menurut komoditasnya, penyumbang
inflasi tertinggi pada triwulan IV 2014
adalah komoditas solar, angkutan dalam kota, dan bensin. Kenaikan bensin dan
solar akibat kebijakan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM bersubsidi
selanjutnya juga diikuti dengan kenaikan tarif angkutan dalam kota. Sementara
itu, kenaikan tarif listrik berkala juga dilakukan pada bulan November.
Kinerja perbankan mengalami peningkatan. Total aset
perbankan Sumatera Selatan pada triwulan IV 2014 masih tumbuh mencapai Rp 77,1
triliun, walaupun sedikit melambat dari 9,5% (yoy) menjadi 9,36 (yoy). Di sisi
lain, DPK tetap tumbuh sebesar 6,6% (yoy) atau mencapai Rp 57,2 triliun,
meningkat dibandingkan triwulan III yang sebesar 5,9% (yoy). Peningkatan jumlah
DPK terjadi akibat peningkatan jumlah tabungan dan deposito, sementara giro
mengalami penurunan. Penyaluran kredit tumbuh melambat dari 14,9% (yoy) pada
triwulan III 2014 menjadi 13,6% (yoy) atau mencapai Rp 85,9 triliun pada
triwulan IV 2014. Walaupun terjadi perlambatan kredit namun kualitas kredit di
triwulan IV mengalami sedikit peningkatan, terlihat dari rasio NPL yang turun
menjadi 2,60%. Kondisi tersebut mengakibatkan Loan-to-Deposit Ratio meningkat
dari 147,39% di triwulan III 2014 menjadi 150,14%.
Realisasi pendapatan Pemerintah Provinsi Sumsel selama
tahun 2014 mencapai 96,44% lebih tinggi dibandingkan tahun 2013. Realisasi
pendapatan terbesar adalah dari pendapatan transfer. Diikuti oleh realisasi
pendapatan asli daerah. Komponen terbesar dalam pendapatan transfer bersumber
dari Dana Perimbangan yang terutama berasal dari Dana Bagi Hasil Bukan Pajak
(Sumber Daya Alam) dan Dana Alokasi Umum. Realisasi belanja pada triwulan IV
2014 mencapai Rp5,78 triliun rupiah atau sebesar 95,58% dari total anggaran.
Realisasi pendapatan terbesar disumbangkan oleh komponen belanja operasi.
Sedangkan komponen belanja tak terduga menyumbang realisasi terendah yakni
sebesar 20,83%.
Kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Selatan menurun.
Peningkatan jumlah penganggur sampai dengan bulan Agustus 2014 lebih tinggi
dibandingkan pertumbuhan jumlah angkatan kerja, sehingga membuat angka Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat. Sementara itu, peningkatan jumlah
angkatan kerja juga ditandai oleh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
juga meningkat.
Tahun 2015
Di akhir tahun 2015, ekonomi Sumatera Selatan tercatat
tumbuh melambat. Hal ini dipengaruhi oleh, antara lain, perlambatan ekonomi
global yang masih melanda dunia. Secara keseluruhan tahun, ekonomi Sumatera
Selatan di tahun 2015 tumbuh sebesar 4,50% (yoy) atau sedikit melambat jika
dibandingkan di tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,70% (yoy). Sedangkan
pertumbuhan di triwulan IV 2015 ekonomi Sumatera Selatan tumbuh sebesar 3,94%
(yoy) atau turun jika dibandingkan dengan triwulan III 2015 yang tumbuh sebesar
4,75% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan masih mengandalkan konsumsi
rumah tangga dan konsumsi pemerintah, sedangkan dari sisi penawaran pertumbuhan
ditopang oleh sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri
pengolahan.
Secara tahunan, realisasi inflasi Sumatera Selatan
triwulan IV 2015 sebesar 3,10% (yoy), turun dibandingkan dengan triwulan III
2015 yang sebesar 4,75% (yoy). Realisasi inflasi Sumatera Selatan tahun 2015
tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional yang sebesar
3,35% (yoy) dan masih berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar
4%±1%.
Bertepatan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi,
kinerja perbankan di provinsi Sumatera Selatan mengalami perlambatan, terlihat
dari perlambatan penyaluran kredit maupun penghimpunan DPK. Di sisi lain,
transaksi keuangan di Sumatera Selatan triwulan ini mengalami peningkatan pada
Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKN-BI).
Tahun 2016
Ekonomi Sumatera Selatan pada
triwulan IV 2016 tumbuh meningkat sebesar 5,15% (yoy). Secara keseluruhan tahun
2016 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03% (yoy). Realisasi
tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi di tahun
2015 yang berada pada level 4,5% (yoy).
Realisasi pendapatan daerah triwulan IV 2016 lebih baik dibandingkan
dengan triwulan IV 2015. Realisasi pendapatan di triwulan IV 2016 tercatat
sebesar Rp6,53 triliun atau 93,29% terhadap APBD 2016, lebih tinggi dibandingkan
realisasi pendapatan triwulan IV 2015 yang sebesar 85,26%. Realisasi pendapatan
tersebut meningkat 39,34% atau sebesar Rp1,84 Triliun dibandingkan realisasi pendapatan
triwulan III 2016. Sementara itu, realisasi belanja triwulan IV 2016 sebesar
Rp4,04 triliun atau 89,93% terhadap APBD 2016, lebih tinggi dibandingkan
realisasi belanja triwulan III 2015 yang sebesar 80,11%.
Inflasi Sumatera Selatan di triwulan IV 2016 sebesar 3,58%
(yoy) mengalami penurunan dibandingkan realisasi inflasi triwulan sebelumnya
yang sebesar 4,37% (yoy). Realisasi tersebut sesuai dengan sasaran inflasi
nasional yang sebesar 4±1% (yoy).
Sektor keuangan menunjukkan perbaikan. Kinerja kredit mengalami
pertumbuhan positif sebesar 10,57% (yoy),meningkat dari pertumbuhan triwulan
sebelumnya sebesar 9,46% (yoy). Di sisi
lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh positif sebesar 5,73%(yoy) setelah
triwulan
sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 4,04% (yoy). Sejalan dengan DPK,
aset perbankan Sumsel mengalami pertumbuhan sebesar 8,34% (yoy), membaik dari
triwulan sebelumnya dimana mengalami kontraksi sebesar 1,98% (yoy). Nominal
penghimpunan DPK yang lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit
menyebabkan Loan-to-Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 162,50% pada triwulan
IV 2016, sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar
162,35%. Secara nominal,
transaksi kliring triwulan IV 2016 mencapai Rp13,91 triliun
atau tumbuh sebesar 21,65% (yoy), lebih rendah dibandingkan
triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 24,58% (yoy). Di sisi lain, jumlah warkat yang ditransaksikan yang tumbuh 22,86% (yoy) atau mencapai 381.319 lembar, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara peredaran uang kartal di Provinsi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2016 menunjukkan posisi net outflow sebesar Rp1,84 triliun. Kondisi tersebut berlawanan dibandingkan triwulan lalu yang mengalami net inflow sebesar Rp1,80 triliun.
Tingkat kesejahteraan petani di
Sumatera Selatan pada triwulan IV 2016 menunjukkan perbaikan. Perbaikan ini
tergambar pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat jika dibandingkan dengan
triwulan sebelumnya. NTP pada triwulan IV 2016 tercatat sebesar 95,45 naik dibanding
triwulan sebelumnya sebesar 94,11. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Sumatera
Selatan pada September 2016 mencapai 1.096,50 ribu orang (13,39%). Kondisi ini membaik
jika dibandingkan dengan Maret 2016 sebesar 13,54%.
SUMBER :
http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/sumsel/Default.aspx
Kelompok : 2
Anggota : Ananda Hasha
Salsabila (20216733)
Novi
Octaviyanti (25216489)
Wisam
Kusumahadi Putra (27216685)
